Aku pernah
menyaksikan dari dekat bagaimana lumpur lapindo meluap dan mengikis
habis perkotaan porong sidoarjo, banyak wisatawan lokal maupun
interlokal bahkan international yang mengabadikan pemandangan yang
menakjubkan itu. :) ya porong termasuk fenomena alam yang hadir di
tengah-tengah kota dengan panorama yang menakjubkan. Sekali lagi
menakjubkan bagi mereka yang berpariwisata yang rumahnya aman dari
bencana. Tapi entahlah, bagaimana dengan mereka yang rumah asalnya di
porong kemudian hancur lebur dalam lumpur, sampai detik ini belum aku
dengar orang porong yang rumahnya dikenai bencana lumpur itu mendadak
menjadi orang kaya dari hasil penjualan limbah lumpur ke dasar laut.
Akh, pasti sangat menyakitkan bukan.!
Rabu, 14 November 2012
Kamis, 12 Juli 2012
Jumat, 13 April 2012
KALABHENGAN "Membakar Cemburu di Boemi Adirasa"
Apakah yang masih sempat kudengarkan tentang Adirasa? jejaknya meninggalkan banyak tanya! Tak perlu kiranya saya persoalkan, semua tahu astanya hanya sebongkah batu nisan yang tak tertuliskan dalam sejarah. Sejarah indonesia mana yang patut kita pikirkan? setiap pergantian kepemimpinan sudah digelapkan! Babad Sumenep, Sejarah Sumenep semakin tahun semakin meragukan, tak ada ceritamu yang membenarkan!. Apakah kau yang berjuluk Raden Wirabrata? ataukah kau Raden Wirakrama yang sebenarnya keturunan Agung Penembahan Blingi bergelar Aria Pulangjiwa? Pentingkah saya bercerita kembali soal Adirasa, tetapi boemi adirasa tempat kisah semua lara suka dan duka. Sepetak tanah yang mengambang di atas laut bumi yang menurut akal manusia sangat rentan dengan bencana, bayangkan keberadaannya dikelilingi lautan dan selat sepudi yang terbilang salah satu selat cukup ngeri ombaknya di wilayah Indonesia .
Senin, 23 Januari 2012
sajakku-sarjana
S A R J A N A
Bukan karena gagal sarjana aku sempat frustasi kawan
Atau karena persoalan putus cinta aku sempat kecewa
Bukan, bukan karena itu kawan!
Tetapi, kekhawatiranku yang sangat
hingga tak bisa berbuat apa-apa tanpa keduanya
Kamis, 08 Desember 2011
Sajakku Untuk Ra'as
“Aku Ini Siapa”
Padahal, bila aku sedang di luar pulau, aku selalu merindukan senja dari bilik bambu dapur yang berlubang di belakang rumah. Tarian ranting-ranting pohon kapu atau sebatang pelepah daun pisang yang melambai-lambai seakan memanggil mega di ufuk barat. Disusul suara muadzin yang tak asing lagi ke khasannya “Ki Dedeng” memanggi-manggil nama-Nya dan mengingatkan manusia-manusia yang terketuk hatinya. Allahu Akbar, mengetuk hati setiap insan yang mendengarnya.
Rabu, 05 Oktober 2011
Dhea: Siluit Senja Masa Lalu
Untuk menikmati siluit senja, secangkir kopi plus tiga batang rokok sudah cukup menemaniku di teras rumah hingga petang tiba. Seperti biasa, menikmati dan memandangi siluit senja apa adanya tak ada penekanan berimajinasi kemudian merangkai puisi-puisi atau melarutkan diri dalam mimpi-mimpi tingkat tinggi. Hanya saja, memang tak dapat kupungkiri kadang-kadang keindahannya membawa nuansa romantisme masa lalu, meski tak jarang kutepis dan mengalihkannya pada suasana romantisme masa depan. Siluit senja tetap tak bisa kuhindari, sebentar menciptakan keindahan di titik barat, berubah menjadi mega merah kemudian padam oleh malam yang kelam.
Senin, 08 Agustus 2011
Butir Tasbih dan Romansa Fitri yang Hilang
Yang tak kebagian di dalam perahu, harus rela berdesak-desakan di atas Dek, tidur dekat WC, berdendang dengan Diesel 8000 volt, ato bersua lagsung dengan air laut, Fantastis, berpanas-panasan adalah pemandangan rutin yang memualkan dipertengahan tanggal bulan ramadlan hingga pertengahan bulan syawal. Sekitar 5 jam kemudian mereka bangun dari tidurnya, bangun sempoyong-an, menganga dengan busa-busa muak yang tersisa, bersorak dengan hati gembira, akhirnya perahu berlabuh dengan selamat. Lengkap sudah, semua keluarga berkumpul untuk merayakan hari kemenangan islam, hari raya idul fitri.
Langganan:
Komentar (Atom)

